Patah Tulang

Patah tulang adalah tumbuhan perdu yang tumbuh tegak. Tingginya adalah 2-6 m dengan pangkal berkayu, bercabang banyak, dan bergetah seperti susu yang beracun.Tumbuhan ini memiliki ranting yang bulat silindris berbentuk pensil, beralur halus membujur, dan berwarna hijau. Setelah tumbuh sejengkal, akan bercabang dua yang letaknya melintang, demikian seterusnya sehingga tampak seperti percabangan yang terpatah-patah.

 

Daunnya jarang, berselang-seling, terdapat pada ujung ranting yang masih muda, dan berukuran kecil-kecil. Berbentuk lanset, panjangnya 7-22 mm, dan cepat rontok. Penumpu daun yang sangat kecil berkelenjar dan berbulu halus terletak pada bagian bawah daun.

 

Bunganya uniseksual, tersusun dalam mangkuk, warnanya kuning kehijauan, dan keluar dari ujung ranting.Biasanya, tumbuhan ini lebih banyak menghasilkan bunga jantan ketimbang bunga betina. Patah tulang berbunga pada bulan Oktober dan berbuah pada November-Desember dan penyerbukan dilakukan oleh serangga.

 Manfaat

Getah tumbuhan ini bersifat asam, mengandung senyawa euforbon, taraksasterol, α-laktuserol, eufol, senyawa damar yang menyebabkan rasa tajam ataupun kerusakan pada lendir, kautschuk (zat karet), dan zat pahit. Namun, zat obat dari herba ini adalah glikosid, sapogenin, terpenoid,dan asam ellaf.Tumbuhan ini juga digunakan untuk meracuni ikan sehingga mudah didapat. Minyak yang didapatkan dari getahnya tampaknya bermanfaat untuk pemanfaatan pada linoleum, jas kain minyak dan industri kulit sandang. Kayu keras, putih, serat kayu yang padat dari tumbuhan patah tulang ini digunakan untuk kasok, mainan dan melapisi dengan lapisan kayu halus. Hasil arangnya cocok untuk digunakan sebagai bubuk mesiu.

 

Di Jawa, beberapa penulis mencatat tapal dari batang atau kulitnya dapat dipergunakan untuk menyembuhkan patah tulang dan menyembuhkan penyakit kulit. Selain itu, getah patah tulang juga dapat mengeluarkan duri yang tertancap dan gabungan antara umbi gadung cina dan buah gondang serta getah dari tumbuhan patah tulang ini dapat menyembuhkan frambusia. Tumbuhan patah tulang juga disebut oleh Hartwell (1969) digunakan sebagai penyembuhan tradisional untuk kanker, tumor, kapalan, dan kutil di Brasil, India, Malaya, dan Indonesia. Akarnya dapat digunakan untuk mengeluarkan bisa ular, di Maluku dan Malabar, tumbuhan ini dapat digunakan untuk merangsang muntah dan antisipilis.Sementara, Suku Kulawi di Sulawesi Tengah memanfaatkan daun dari tumbuhan ini sebagai diuretik (peluruh air seni), sementara getahnya dapat menyembuhkan sakit gigi.