berita
- By
- 10 Jun 2022
- 851
Patah Tulang
Patah tulang adalah tumbuhan
perdu yang tumbuh tegak. Tingginya adalah 2-6 m dengan pangkal berkayu,
bercabang banyak, dan bergetah seperti susu yang beracun.Tumbuhan ini memiliki
ranting yang bulat silindris berbentuk pensil, beralur halus membujur, dan
berwarna hijau. Setelah tumbuh sejengkal, akan bercabang dua yang letaknya
melintang, demikian seterusnya sehingga tampak seperti percabangan yang
terpatah-patah.
Daunnya jarang, berselang-seling,
terdapat pada ujung ranting yang masih muda, dan berukuran kecil-kecil.
Berbentuk lanset, panjangnya 7-22 mm, dan cepat rontok. Penumpu daun yang
sangat kecil berkelenjar dan berbulu halus terletak pada bagian bawah daun.
Bunganya uniseksual,
tersusun dalam mangkuk, warnanya kuning kehijauan, dan keluar dari ujung
ranting.Biasanya, tumbuhan ini lebih banyak menghasilkan bunga jantan ketimbang
bunga betina. Patah tulang berbunga pada bulan Oktober dan berbuah pada
November-Desember dan penyerbukan dilakukan oleh serangga.
Manfaat
Getah tumbuhan ini bersifat
asam, mengandung senyawa euforbon, taraksasterol, α-laktuserol, eufol, senyawa
damar yang menyebabkan rasa tajam ataupun kerusakan pada lendir, kautschuk (zat
karet), dan zat pahit. Namun, zat obat dari herba ini adalah glikosid,
sapogenin, terpenoid,dan asam ellaf.Tumbuhan ini juga digunakan untuk meracuni ikan
sehingga mudah didapat. Minyak yang didapatkan dari getahnya tampaknya
bermanfaat untuk pemanfaatan pada linoleum, jas kain minyak dan industri kulit
sandang. Kayu keras, putih, serat kayu yang padat dari tumbuhan patah tulang
ini digunakan untuk kasok, mainan dan melapisi dengan lapisan kayu halus. Hasil
arangnya cocok untuk digunakan sebagai bubuk mesiu.
Di Jawa, beberapa penulis mencatat
tapal dari batang atau kulitnya dapat dipergunakan untuk menyembuhkan patah
tulang dan menyembuhkan penyakit kulit. Selain itu, getah patah tulang juga
dapat mengeluarkan duri yang tertancap dan gabungan antara umbi gadung cina dan
buah gondang serta getah dari tumbuhan patah tulang ini dapat menyembuhkan
frambusia. Tumbuhan patah tulang juga disebut oleh Hartwell (1969) digunakan
sebagai penyembuhan tradisional untuk kanker, tumor, kapalan, dan kutil di
Brasil, India, Malaya, dan Indonesia. Akarnya dapat digunakan untuk
mengeluarkan bisa ular, di Maluku dan Malabar, tumbuhan ini dapat digunakan
untuk merangsang muntah dan antisipilis.Sementara, Suku Kulawi di Sulawesi
Tengah memanfaatkan daun dari tumbuhan ini sebagai diuretik (peluruh air seni),
sementara getahnya dapat menyembuhkan sakit gigi.

